Doctor Strange in the Multiverse of Madness: Visually Mad, but Emotionally Boring

Ditulis oleh JT (Kru ‘21)

Doctor Strange in the Multiverse of Madness yang telah lama dinanti sejak film pertamanya Doctor Strange (2016) telah tiba. Untuk membahas film ini secara lebih lanjut, spoiler warning ya bagi yang belum nonton! Pada sequel ini Doctor Strange bertemu dengan seorang pemuda bernama America Chavez yang sedang dikejar oleh sebuah makhluk gaib yang ternyata adalah usulan Wanda Maximoff alias Scarlet Witch karena kekuatan Chavez membuka portal untuk berkelana dalam multiverse. Sepanjang film ini Doctor Strange harus membantu Chavez dan mengalahkan Wanda. Namun, untuk mengalahkan Wanda, mereka harus mencari The Book of Vishanti dan sepanjang perjalanan mencari buku mereka berdua dibantu dengan beberapa tokoh lama dan baru seperti Wong, Christine Palmer, Baron Mordo, dan The Illuminati.

Eksekusi dari film ini sungguh tidak seperti film-film MCU sebelumnya, melainkan terlihat kekhasan dari sang direktur Sam Raimi yang sangat jelas pada film ini. Mulia dari komposisi tiap adegan, transisi, dan color grading sangat terlihat bahwa ini adalah film karya Sam Raimi. Bahkan, terasa sedikit juga nostalgia karena eksekusi yang mengingatkan penonton ketika melihat film Spider-Man yang dibintangi oleh Tobey Maguire. Visual yang ada dalam film ini juga sungguh menakjubkan dengan membawa tokoh-tokohnya ke banyak dunia baru dan beragam. Bahkan, ada pula sebuah adegan pertarungan yang unik dan dikemas dengan baik. Akan tetapi hal yang paling mencolok dari eksekusi film ini adalah unsur horrornya. Dengan tingkat “kesadisan” yang cukup tinggi untuk ukuran film MCU, Sam Raimi berhasil menunjukkan pada penonton sisi lebih gila dan brutal dari Wanda Maximoff. Hal ini sangat terlihat dari setiap adegan Wanda mengejar Strange dan Chavez yang dikemas dengan suspense dan rasa tegang.

Hal ini didukung oleh peforma dari Elizabeth Olsen yang luar biasa sebagai seorang ibu yang kehilangan anak-anaknya bersama dengan kewarasannya. Elizabeth Olsen mampu menimbulkan rasa tegang pada hati penonton mulai dengan ketenangannya dalam situasi yang gila, sampai raut wajahnya yang menunjukkan sisi gilanya secara tak kentara. Peforma yang diberikan oleh Xochitl Gomez (America Chavez) dan Benedict Wong (Wong) meski bukan yang terbaik, tetapi tetap mampu memberikan beberapa momen berkesan untuk peran mereka. Namun, ada pula Benedict Cumberbatch (Doctor Strange) dan Rachel McAdams (Christine Palmer) yang cukup mengecewakan. Dengan banyak varian Strange yang kita lihat, tetap saja terlihat sebuah persona yang sama persis dengan Doctor Strange yang sudah kita kenali sejak 2016. Tokoh Christine Palmer juga sebenarnya disayangkan dengan ceritanya yang tidak jelas yang akan dibahas habis ini, namun tetap saja akting dari Rachel McAdams tak mampu menyelamatkan cerita dari Christine.

Dalam film ini terlihat banyak tokoh yang tidak esensial bagi jalannya cerita. Sebelum lanjut, kembali major spoilers ahead! Salah satu tokoh ini adalah Christine Palmer yang hanya menjadi sebuah pengingat bagi Doctor Strange akan masalah percintaannya yang gagal. Bahkan, dari cerita mereka berdua pun meskipun terlihat Doctor Strange sudah rela melepaskan Christine, tetap saja tidak terlihat kepentingan dari adanya masalah itu. Selain itu, Illuminati yang mendatangkan Professor X, Captain Carter, Maria Rambeau, dan Reed Richards alias Mr.Fantastic tentu membuat isi bioskop terkagum-kagum, namun rasa itu hanya menetap selama beberapa menit saja. Keberadaan mereka yang hanya untuk memberitahu Strange bahwa ia adalah makhluk paling berbahaya dalam Multiverse sesungguhnya tidak diperlukan karena permasalahan itu tidak terlalu dibahas sepanjang film. Adanya Illuminati dalam film ini sesungguhnya seperti fan service yang gagal karena tidak adanya kepentingan mereka dalam cerita, bahkan menjadi hal yang sangat mengecewakan untuk memperkenalakan X-Men, Fantastic Four, dan Inhumans ke dalam MCU.

Film ini juga gagal menarik empati dari penonton. Mulai dari character development Strange sampai grief yang dirasakan Wanda, rasanya film ini memasukkan terlalu banyak sub-plot tanpa mengingat durasi yang begitu singkat. Alhasil kita memperoleh banyak masalah yang antara tidak memberikan kesan yang penting atau tidak mampu menyentuh hati penonton. Dengan adanya hal ini, jadi membingungkan juga karena terlihat jelas bahwa ini adalah film Doctor Strange, namun mengapa sangat sulit untuk merasakan empati terhadap Strange.

So to sum up, Doctor Strange in the Multiverse of Madness adalah film yang cukup mengecawakan dari segi ceritanya yang gagal menarik rasa empati dan masih banyak kekosongan sepanjang film. Akan tetapi, visual yang mendatangkan berbagai dunia baru dan makhluk-makhluk baru bisa menjadi sebuah penyegar mata. Selain itu, pengemasan Sam Raimi dengan kekhasannya baik dari segi sinematografi maupun unsur horrornya menjadi salah satu alasan film ini patut untuk ditonton.

--

--

we talk about movies, tv shows, k-dramas, animes, and more!

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store