Film-Film Pilihan di Jakarta World Cinema 2024

Kineklub LFM ITB
5 min readOct 14, 2024

--

Ditulis oleh Bobby (Kru’21) dan Fadhal (Kru’22)

Pada bulan September kemarin, Jakarta World Cinema (JWC) kembali digelar untuk ketiga kalinya di CGV Grand Indonesia dengan menghadirkan 120 film dari total 61 negara. Pada VVIP edisi kali ini, Kru Fadhal dan Bobby mengulas film-film yang mereka tonton di perhelatan JWC kemarin.

Hesitation Wound (2023) dir. Selman Nacar

Skeptis dengan durasinya yang singkat, saya sempat mempertanyakan bagaimana film Hesitation Wound (2023) akan dapat menyelesaikan kisahnya yang mengurusi drama pengadilan intens dengan subplot hubungan ibu-anak yang ditampilkan bergantian. Namun, Selman Nacar ingin mencoba mengambil satu benang merah tentang berharganya seorang ibu bagi seorang anak perempuannya. Pembawaannya memang lamban, tetapi film Turki yang banyak disetir oleh dialog ini mencoba untuk membawakan fluktuasi emosinya lewat jalinan percakapan dan sinematografinya yang kebanyakan statis.

Ghostlight (2024) dir. Alex Thompson dan Kelly O’Sullivan

Ghostlight (2024) adalah sajian indah dalam menerjemahkan pelarian menjadi sosok lain yang sering diampu aktor dalam teaternya. Seorang petugas konstruksi bermimpi untuk keluar dari pekerjaannya yang monoton, dan kehidupannya mulai berubah ketika ia bertemu dengan seorang sutradara teater. Alex Thompson dan Kelly O’Sullivan begitu paham bagaimana membawakan bilah kisah seorang ayah yang ditimpa banyak beban dan mulai menemukan kebebasan dalam dunia teater. Satu keluarga yang betul-betul diperankan keluarga asli dari Keith Kapferer sebagai Dan, Tara Mallen sebagai Sharon, dan Katherine Mallen Kapferer sebagai Daisy menjadi kunci bagaimana kecintaan mereka akan teater di kehidupan asli dapat merealisasikan bagian hidup mereka menjadi pengalaman sinematik yang hadir secara menawan dan hangat.

Emilia Pérez (2024) dir. Jacques Audiard

Kekuatan dari film garapan Jacques Audiard ini adalah bagaimana memadukan drama-aksi kartel Meksiko yang terkenal garang dengan emansipasi dan kesetaraan gender lalu dihiasi dengan unsur musikal menjadi sajian yang tidak terduga uniknya. Emilia Pérez (2024) digendong oleh penampilan gigih Zoë Saldaña, nyentriknya Selena Gomez, dan tidak ketinggalan ikon transgender paling dikagumi dalam film ini: Karla Sofía Gascón. Ketiganya tampil bersinar dalam perpaduan kisah perempuan yang inspiratif dan kuat di tengah beringasnya dunia mafia Meksiko dan lemahnya penggambaran skenarionya bak film-film di layanan streaming yang mengangkat dunia Meksiko pula.

Us, Our Pets and The War (2024) dir. Anton Ptushkin

Perang Rusia dan Ukraina memang menyeramkan dan merenggut banyak nyawa pada masanya. Tak hanya manusia, hewan pun terdampak kehidupannya dan ikut meregang nyawa. Dokumenter ini menyorot penyelamat hewan di tengah kisruh konflik yang ditampilkan begitu telanjang dalam film ini. Sorotannya ialah hewan peliharaan seperti kucing dan anjing hingga hewan buas yang walau membahayakan bagi manusia, tetap diselamatkan untuk menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan hidupnya. Film ini menawarkan sisi lain dari perang yang siapa sangka memberikan “bintang penghormatan” bagi para hewan yang tetap berjuang di tengah sulitnya konflik dua negara ini.

No Other Land (2024) Basel Adra, Yuval Abraham, Hamdan Ballal, dan Rachel Szor

Tentang manifestasi perlawanan dan pernyataan yang membuka mata pada kejahatan pendudukan ilegal tanah Palestina oleh tentara okupasi Israel. Penggusuran tuan tanah yang tak pernah berhasil juga hak kepemilikan tanah bukan bagi mereka yang merasa dijanjikan Tuhan, tetapi mereka yang bertahan. Menyuarakan tentang adanya politik apartheid yang saat ini terjadi di Timur-Tengah, khususnya warga Masafer Yatta, Tepi Barat, Palestina, film dokumenter ini menjadi bukti bahwa pada hari ini kamera, internet, jurnalistik, dan sinema menjadi senjata perlawanan yang kuat.

Flow (2024) dir. Gints Zilbalodis

Flow (2024) menjadi sebuah pengalaman magis menyaksikan gerak mimik hewan-hewan sebagaimana mestinya dalam menghadapi bencana melalui potret surealis. Suguhan film emotionally-driven ini mengajak penontonnya untuk hanyut bersama dalam sebuah kelompok yang menerjang bencana. Dikemas tanpa dialog verbal, kita diajak mengikuti sesebagaimana para hewan bergerak dalam ruang baru yang asing dan penuh ancaman untuk bertahan. Tentang rasa takut, asih, harapan, hingga menjadi sebuah harmoni yang padu. Flow (2024) menampilkan audio visual nan megah dengan gebrakan baru pada dunia animasi 3D.

All We Imagine As Light (2024) dir. Payal Kapadia

Gemerlap cahaya titik-titik kecil gedung pencakar langit, riuh ramai, dan pengangnya kota Mumbai pada malam hari yang tak jauh berbeda dengan kota Jakarta menjadi saksi bisu atas mimpi tentang cinta oleh dua perawat perempuan. Sebuah angan-angan tentang cahaya dari gelapnya malam, perjalanan cinta yang baru dirajut, sampai ia yang bekerja hingga tak mampu melihat langit untuk kembali ke pelukan sang kekasih. Gedung yang semakin tinggi, kehidupan yang baru dimulai pada malam hari, sampai permasalahan kelas menjadikan mereka yang bermimpi untuk sejenak kembali pada terang, melepaskan pada deburan ombak, juga intimnya pasir pantai.

The Substance (2024) dir. Coralie Fargeat

Sajian komedi satir body horor tentang body dysmorphia dan perasaan inferioritas pada ketubuhan diri sendiri. Mengajak pada naratif khas film kelas-B bak imaji lain cerita dongeng penyihir tua yang terobsesi pada kecantikan menjadi muda kembali, dikemas dalam sebuah pertunjukan penuh aksi yang mengasyikkan sekaligus membuat tidak nyaman penontonnya. Memotret permasalahan industri aktris tentang bagaimana industri dan kamera memandang perempuan dalam sudut pandang pria atau male gaze, sorotan-sorotan dalam jarak dekat yang menjijikkan, juga posisi pria yang mengatur standar dan nilai jual tubuh perempuan. The Substance (2024) menjadi sajian yang menggairahkan juga mendebarkan pada pengalaman sinematik luar biasa, khususnya 30 menit terakhirnya!

--

--

Kineklub LFM ITB
Kineklub LFM ITB

Written by Kineklub LFM ITB

Kanal diskusi, kritik, dan apresiasi film oleh kru Liga Film Mahasiswa ITB. https://linktr.ee/kineklub

No responses yet