Review: The Handmaiden (2016)

Melihat industri perfilman Korea yang sedang berkembang pesat, alangkah teganya jika melewatkan sebuah karya masterpiece dari seorang sutradara, Park Chan-wook, yang mungkin masih kurang awam bagi beberapa kalangan, yaitu The Handmaiden. Setelah menggarap Oldboy (2003) yang keras nan spektakuler juga menjadi salah satu produser Snowpiercer

(2013), Park Chan-wook menciptakan salah satu karya terbaiknya yang bahkan mungkin salah satu film Korea terbaik dalam satu dekade terakhir ini. The Handmaiden dibangun dengan ide ide gila yang sangat berani dan unpredictable.

Berlatar belakang sekitar tahun 1930-an ketika Korea Selatan berada di bawah penjajahan Jepang, The Handmaiden menggambarkan kondisi Korea Selatan yang kelam dengan kesengsaraan terhadap kesenjangan sosial juga konflik politik. The Handmaiden mengisahkan tentang seorang penipu ulung berkedok seorang pangeran bernama Fujiwara (Ha Jung-woo)

yang memiliki ide cerdik nan licik untuk mendapatkan sebuah harta. Fujiwara berencana menikahi seorang keturunan bangsawan Jepang, Lady Hideko (Kim Min-hee). Dengan bantuan seorang pencopet bernama Sook Hee (Kim Tae-ri) yang ditugaskan menjadi pelayan Hideko, Fujiwara berusaha untuk meyakini Hideko untuk menerima pinangannya dengan penuh tipu daya untuk merampas kekayaannya. Namun, perjalanan dalam menggapai tujuannya berubah ketika Hideko menanggapi cinta tidak tepat sasaran. Fujiwara dan Sook Hee pun mulai dirundung berbagai masalah terlebih pamannya Hideko memiliki motif yang sama dengan mendayagunakan hubungan keluarganya.

Hal yang menjadi salah satu point out dari film ini adalah bagaimana relationship development dari Sook Hee dan Hideko yang berangsur-angsur terus berubah dan terbangun. Dikarenakan gejolak emosi yang melahirkan berbagai penyesalan, Sook Hee tergambarkan semakin hilang antah-berantah dari tujuan awalnya membantu Fujiwara. Kedekatan antara pelayan dan sang bangsawan menciptakan sebuah tipu daya baru yang saling beradu demi kepentingan hubungan yang dimiliki. Manipulasi-manipulasi yang ada diceritakan dengan alur maju mundur yang matang.

The Handmaiden menyuguhkan pengalaman menonton yang berbeda dan juga nano-nano. Penonton disuguhkan dengan unsur-unsur komedi tipis, kasar, nakal, hingga erotis. Soal visualisasi, film ini dikemas dengan tone sedikit dark yang menambah kesan misterius dengan penuh kejanggalan. Ditambah juga, film ini menampilkan beberapa shot ikonik yang memanjakan mata. Durasi yang cukup lama dengan pacing cenderung sedikit lambat tetap terasa nyaman berkat dukungan cerita yang kompleks dan berkembang secara bertahap. Film ini dibagi menjadi tiga bagian. Dengan latar belakang harta dan cinta, film ini memberikan sebuah plot twist yang ciamik, rumit, dan tidak pernah terduga dalam benak pikiran selama menonton. Sepanjang film menerka-nerka kelanjutan dari cerita seakan-seakan tertampar, terdiam, dan takjub ketika plot twist ini disuguhkan. Maybe one of the best plot twist I’ve ever watched.

Overall, film ini sangat layak untuk ditonton meskipun diperlukannya kebijakan dalam menonton karena film ini banyak mengandung unsur erotis yang sangat berani dan kekerasan. Sudah sepatutnya The Handmaiden diapresiasi dan diberikan banyak penghargaan. Jajaran cast yang sangat luwes mendalami karakter, sinematografi yang ciamik, dibarengi dengan cerita yang megah membuat film ini layak menjadi tontonan di akhir minggu, terlebih bagi orang orang yang suka dengan film yang kompleks nan mindblowing.

-written by Hassan (kru ‘20)-

--

--

we talk about movies, tv shows, k-dramas, animes, and more!

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store